Bagi para pencinta kafein, menikmati secangkir Kopi di Gunung adalah ritual yang tidak boleh terlewatkan, baik saat sedang mendaki puncak tertinggi maupun saat bersantai di tepi laut. Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa biji kopi yang sama, diseduh dengan cara yang sama, bisa memberikan profil rasa yang sangat berbeda tergantung di mana Anda meminumnya? Fenomena ini sering kali memicu perdebatan di kalangan barista dan penikmat kopi. Jawabannya ternyata melibatkan kombinasi antara hukum fisika, kimia air, dan bagaimana lingkungan sekitar memengaruhi cara otak kita menerjemahkan rasa.
Salah satu faktor utama yang membedakan rasa saat berada di Gunung adalah tekanan udara. Di ketinggian yang lebih tinggi, tekanan atmosfer lebih rendah daripada di permukaan laut. Hal ini berdampak langsung pada titik didih air. Jika di daerah pantai air mendidih tepat pada suhu 100°C, maka di puncak gunung, air bisa mendidih pada suhu 90°C atau bahkan lebih rendah. Suhu air yang lebih rendah ini mengakibatkan proses ekstraksi kopi menjadi tidak maksimal. Senyawa-senyawa berat yang memberikan rasa pahit dan body pada kopi sering kali tidak terekstraksi sempurna, sehingga kopi di pegunungan cenderung terasa lebih asam, ringan, dan memiliki aroma bunga yang lebih menonjol.
Sebaliknya, saat Anda menyeduh kopi di Pantai, tekanan udara yang tinggi membuat suhu air tetap stabil di titik didih yang ideal untuk ekstraksi. Selain itu, kelembapan udara yang tinggi di pesisir pantai berperan besar dalam menjaga suhu cangkir Anda tetap panas lebih lama. Kandungan mineral dalam udara pantai yang kaya akan garam juga secara tidak sadar memengaruhi indra penciuman kita. Molekul aroma kopi yang terbang ke hidung bercampur dengan udara asin, yang secara kimiawi dapat menekan rasa pahit dan menonjolkan rasa manis alami dari biji kopi tersebut. Inilah yang membuat kopi di pantai sering kali terasa lebih “bulat” dan seimbang di lidah.
Pertanyaan mengenai Kenapa perbedaan ini terjadi juga tidak bisa lepas dari kualitas air lokal yang digunakan untuk menyeduh. Air di pegunungan biasanya berasal dari mata air yang mengandung mineral kristal yang berbeda dengan air di daerah pesisir yang mungkin sudah melalui proses filtrasi yang lebih panjang atau memiliki kandungan kalsium yang lebih tinggi. Mineral dalam air berfungsi sebagai pelarut yang mengikat komponen rasa dari bubuk kopi. Jika komposisi mineralnya berbeda, maka profil rasa yang dihasilkan pun akan mengalami pergeseran yang signifikan, meskipun biji yang digunakan berasal dari sangraian yang sama.