Kopi Gayo dari Sumatra terkenal di seluruh dunia. Cita rasanya yang unik dan kuat menjadikannya favorit para penikmat kopi. Rahasia di balik profil rasa yang khas ini terletak pada sebuah proses yang sangat tradisional: giling basah.
Metode ini sangat berbeda dari pengolahan kopi pada umumnya. Alih-alih mengeringkan biji kopi hingga kadar air 10-12%, petani kopi di Sumatra hanya mengeringkannya sebentar. Ini adalah tahap awal dari proses giling basah.
Biji kopi yang baru dipetik difermentasi selama satu malam. Keesokan harinya, kulit luar biji kopi dikupas menggunakan mesin pulper. Biji kopi yang masih basah ini disebut gabah.
Gabah kopi kemudian diletakkan di terpal untuk dikeringkan di bawah sinar matahari. Proses pengeringan ini hanya dilakukan selama beberapa jam. Tujuannya adalah mengurangi kadar air hingga sekitar 18-20%.
Pada tahap ini, biji kopi masih sangat lembap. Inilah saat di mana proses giling basah mendapatkan namanya. Biji kopi yang masih basah ini kemudian digiling untuk memisahkan kulit ari.
Hasil gilingan ini disebut green bean. Biji kopi ini masih memiliki kadar air yang tinggi, sekitar 12-16%. Kemudian, biji kopi ini kembali dikeringkan di bawah sinar matahari hingga kadar airnya mencapai 10-12%.
Proses pengeringan yang berulang-ulang ini memberikan dampak besar pada biji kopi. Biji kopi Gayo menjadi lebih gelap dan padat. Ini adalah ciri khas dari biji kopi yang diproses secara giling basah.
Proses ini sangat memengaruhi profil rasa kopi. Kopi Sumatra yang diproses dengan cara ini cenderung memiliki rasa earthy atau seperti tanah yang kaya. Rasa ini adalah salah satu karakter unik dari kopi Gayo.
Selain itu, kopi ini memiliki tingkat keasaman yang rendah. Rasa body-nya kuat dan tebal, dengan sedikit sentuhan rempah-rempah dan cokelat. Inilah yang membuat kopi Sumatra terasa begitu berbeda.
Teknik giling basah adalah warisan budaya yang dipertahankan oleh petani kopi Gayo. Metode ini telah diturunkan dari generasi ke generasi, dan menjadi identitas rasa kopi Sumatra di mata dunia.